
Kamis, 1 Juli 2013. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pada Juli 2013 terjadi inflasi sebesar 3,29 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 144,63. Dari 66 kota IHK, tercatat seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Ternate 6,04 persen dengan IHK 147,05 dan terendah terjadi di Singkawang 1,36 persen dengan IHK 146,30. Inflasi pada Juli 2013 sebesar 3,29% atau tertinggi bila
dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month) sejak krisis tahun 1999. Secara tahunan inflasi mencapai 8,61 persen atau lebih tinggi dari prediksi dari pemerintah sepanjang tahun, yakni 7,2 persen.
Apa penyebab kenaikan inflasi??
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks beberapa kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan 5,46 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 1,55 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,44 persen; kelompok kesehatan 0,40 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,69 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 9,60 persen.
Inflasi
yang tinggi ini dipengaruhi kenaikan harga ikan sebagai bahan makanan dan tarif
angkutan yang naik karena mengikuti kenaikan harga BBM.
Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi penyebab utama melonjaknya inflasi pada
bulan Juli 2013 yang sebesar 3,29%. BBM baik subsdidi maupun non
subsidi mempunyai andil terhadap inflasi Juli hingga 0,77%. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (1/8).
Dia
memaparkan penyebab utama inflasi Juli lainnya adalah kenaikan tarif
angkutan dalam kota sebesar 21,05% yang memberikan andil terhadap
inflasi 0,54%. Hal ini tidak lepas dari dampak naiknya harga BBM
bersubsidi. Kenaikan tarif angkutan terjadi di 66 kota IHK dengan kenaikan tertinggi di Kupang dan Serang sebesar 42%.
Selain itu, bawang merah memiliki andil inflasi sebesar 0,48 persen,
dengan perubahan harga 62,28 persen. "Ini karena pasokan berkurang di
pasaran," kata Suryatmin.
Komoditas lainnya, seperti cabe rawit, menyumbang inflasi 0,11
persen, dengan kenaikan harga 55,26 persen, dan daging ayam ras 0,22
persen, dengan 14,59 persen di kenaikan harga.
Suryamin memaparkan, pihaknya memantau 751 jenis komoditas. Uniknya,
beberapa komoditas yang sebelumnya tak menyumbang inflasi, kini turut
mengerek indeks harga. Misalnya soto dan kue kering berminyak alias
gorengan "Kue kering berminyak atau gorengan andilnya 0,02 persen. Soto juga ini mempunyai andil 0,02 persen," ungkapnya.
Suryatmin menjelaskan, meski target inflasi tahunan sudah terlampau,
inflasi masih bisa turun dari 8 persen dalam enam bulan ke depan.
Syaratnya, pemerintah harus mengendalikan kenaikan harga komoditas yang
melonjak.
Lalu apa akibat kenaikan inflasi??
Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat jatuh cukup dalam di zona merah setelah
keluar pengumuman inflasi Juli yang cukup tinggi.
Awalnya investor masih lakukan aksi beli selektif sambil menunggu pengumuman
inflasi Juli oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Indeks pun sempat naik hingga
posisi tertingginya 4.632,428. Menjelang siang, BPS melaporkan laju inflasi Juli 2013 mencapai 3,29%.
Melambungnya inflasi yang siginifikan ini masih dipengaruhi dari imbas kenaikan
harga BBM.
Pelaku pasar merespons tingginya tingkat inflasi ini dengan melepas saham.
Alhasil, IHSG langsung jatuh ke zona merah hingga ke posisi terendahnya di
4.592,093.
(dikutip dari berbagai sumber)